Medan, walhisumut.or.id – Yayasan Ekosistem Lestari (YEL) bersama Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (WALHI) Eksekutif Daerah Sumatera Utara (Sumut) gelar Dialog Luar Studio difasilitasi Radio Republik Indonesia (RRI) Medan. Membahas “Catatan Akhir Tahun: Lingkungan dan Bencana di Sumut sepanjang tahun 2024”, yang digelar di Kantor YEL, Medan, (19/12/2024).
Dalam dialognya, Kepala Divisi Konservasi In-Situ YEL Julius Paolo Siregar mengatakan kerusakan ekosistem di Sumut sangat menganggu habit satwa liar. Sebagai yayasan yang berfokus pada konservasi satwa liar, YEL, katanya, memandang satwa kunci atau spesies payung (umbrella species) sebagai indikator dalam menilai kerusakan hutan.
“Satwa kunci atau spesies payung ini harus dilindungi, karena kita melindungi ekosistemnya. Kaitannya sangat erat dengan keberadaan satwa kunci seperti gajah, harimau, orangutan dengan ekosistem dan hutannya,” ungkap Julius.
Julius menjelaskan indikator kerja YEL untuk menilai efektivitas dari program konservasi. “Indikator dari kami yang pasti konflik dan satwa. Jika konflik tidak terjadi artinya si satwa itu bisa hidup dalam ekosistemnya.”
Manajer Advokasi dan Kampanye WALHI Sumut, Jaka Kelana, mengatakan kerusakan ekosistem di Sumut juga berdampak pada bencana. “Dari catatan WALHI memang masif, ya, kerusakan hutan di Sumut yang tentu berkaitan dengan bencana. Dengan rusaknya hutan itu artinya di hulu, berpotensi menganggu ekosistem yakni tangkapan air,” kata Jaka.
Jaka menambahkan, kunci penanganan siklus bencana di Sumut ada pada pemerintah. “Itu kembali lagi pada political will atau komitmen dari pemerintah itu sendiri. Bagaimana pemerintah dengan komitmen penuh menjaga lingkungan,” imbuhnya.
“Sementara peran WALHI di sini kontrol terhadap kebijakan pemerintah itu sendiri. Supaya pemerintah berperan sebagai mana mestinya dalam hal kerusakan hutan,” pungkas Jaka.