Skip to content Skip to footer

Medan, 20 Mei 2026 — Wahana Lingkungan Hidup Indonesia Sumatera Utara (WALHI Sumut) menjadi salah satu organisasi partner dalam kegiatan Kawula17 Goes To School Medan yang digelar Kawula17 bersama AIESEC Universitas Sumatera Utara di Gedung Abdul Karim Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Sumatera Utara, Kamis, 30 April 2026.

Kegiatan ini menghadirkan 120 siswa dari enam sekolah berbeda di Medan. Para peserta yang berasal dari latar belakang OSIS dan OSIM diajak mengenali isu lingkungan melalui penyampaian materi, diskusi kelompok, sesi wawancara bersama organisasi lingkungan, serta pengisian lembar kerja aspirasi. Aspirasi tersebut direncanakan akan diserahkan kepada Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan Provinsi Sumatera Utara sebagai masukan dari pelajar.

Dalam kegiatan tersebut, WALHI Sumut membuka booth kampanye fisik untuk mengenalkan isu Ekosistem Batang Toru dan pengelolaan sampah kepada pelajar. Melalui booth tersebut, siswa diajak melihat bahwa persoalan lingkungan tidak berdiri jauh dari kehidupan sehari-hari. Krisis ekologis, deforestasi, ancaman terhadap ruang hidup, kepunahan satwa endemik, hingga buruknya pengelolaan sampah perkotaan merupakan persoalan yang saling berhubungan dengan cara pembangunan dan pola konsumsi masyarakat.

Juru Kampanye WALHI Sumut, Maulana Gultom, mengatakan keterlibatan WALHI dalam kegiatan ini menjadi bagian dari upaya mendekatkan isu lingkungan kepada generasi muda, terutama pelajar SMA yang selama ini kerap hanya ditempatkan sebagai objek kampanye, bukan sebagai subjek yang punya pandangan dan sikap atas masa depan ekologisnya sendiri.

“Bagi WALHI Sumut, ruang seperti ini penting karena pelajar tidak boleh hanya dikenalkan pada lingkungan sebatas kegiatan seremonial atau ajakan membuang sampah pada tempatnya. Mereka juga perlu diajak memahami kenapa hutan rusak, kenapa banjir terus berulang, kenapa satwa seperti orangutan Tapanuli terancam, dan siapa saja yang mengambil manfaat dari kerusakan itu,” ujar Maulana.

Pada isu Ekosistem Batang Toru, WALHI Sumut menekankan pentingnya kawasan tersebut sebagai bentang alam yang menopang kehidupan masyarakat, sumber air, keanekaragaman hayati, dan habitat orangutan Tapanuli. Namun, kawasan ini terus berada dalam tekanan akibat pembukaan hutan, proyek infrastruktur, perkebunan, pertambangan, dan berbagai izin ekstraktif yang mempersempit ruang hidup masyarakat serta satwa liar.

Menurut Maulana, kampanye Batang Toru kepada pelajar penting dilakukan karena ekosistem ini bukan hanya isu konservasi, tetapi juga menyangkut keselamatan manusia. Kerusakan hulu, hilangnya tutupan hutan, dan alih fungsi lahan akan kembali ke masyarakat dalam bentuk banjir, longsor, kekeringan, dan konflik ruang hidup.

“Batang Toru sering dibicarakan hanya sebagai habitat orangutan Tapanuli. Itu benar dan penting. Tapi lebih jauh, Batang Toru juga ruang hidup masyarakat. Kalau hutannya rusak, kalau kawasan tangkapan airnya dibongkar, dampaknya tidak berhenti di hutan. Ia turun ke kampung-kampung, ke sungai, ke sawah, dan ke rumah warga,” kata Maulana.

Selain Batang Toru, WALHI Sumut juga mengangkat isu pengelolaan sampah. Di booth WALHI, pelajar diajak melihat bahwa persoalan sampah tidak cukup diselesaikan hanya dengan imbauan individual. Pengurangan sampah dari sumber, tanggung jawab produsen, pembatasan plastik sekali pakai, pemilahan, serta perubahan sistem pengelolaan menjadi agenda penting yang harus didorong bersama.

Maulana menyebut, pelajar punya posisi strategis untuk membangun budaya kritis terhadap sampah, terutama karena mereka berada dalam lingkungan sekolah yang setiap hari menghasilkan sampah konsumsi. Namun, tanggung jawab itu tidak boleh dibebankan hanya kepada siswa. Pemerintah, sekolah, produsen, dan masyarakat harus membangun sistem yang memungkinkan pengurangan sampah berjalan secara nyata.

“Kita tidak bisa terus menyalahkan masyarakat atau pelajar karena membuang sampah sembarangan, sementara sistem pengelolaannya sendiri tidak disiapkan. Sekolah harus punya sistem pemilahan, pemerintah harus memperkuat layanan pengurangan sampah dari sumber, dan produsen juga harus bertanggung jawab atas kemasan yang mereka edarkan,” ujar Maulana.

WALHI Sumut menilai kegiatan seperti Kawula17 Goes To School dapat menjadi pintu masuk untuk memperkuat literasi ekologis di kalangan pelajar. Pendidikan lingkungan tidak boleh berhenti pada pengetahuan umum tentang kebersihan, tetapi harus membuka ruang berpikir kritis tentang relasi antara kebijakan, korporasi, gaya hidup, dan keselamatan warga.

Kegiatan ini turut dihadiri sejumlah organisasi lingkungan, di antaranya WALHI Sumut, Satya Bumi, SavEnvironment, Yayasan Orangutan Sumatera Lestari, dan Yayasan Ekosistem Lestari.

WALHI Sumut berharap ruang-ruang pendidikan seperti ini terus diperluas, baik di sekolah, kampus, maupun komunitas warga. Pelajar harus diberi ruang untuk bertanya, menyampaikan aspirasi, dan terlibat dalam agenda perlindungan lingkungan hidup.

“Generasi muda tidak sedang mewarisi lingkungan yang baik-baik saja. Karena itu, mereka juga harus diberi pengetahuan yang jujur tentang krisis ekologis yang sedang terjadi. Dari situ, kita berharap tumbuh keberanian untuk bertanya, bersikap, dan terlibat dalam upaya menjaga ruang hidup,” tutup Maulana.

Leave a comment

Wahana Lingkungan Hidup Indonesia – Sumatera Utara © 2026.

All Rights Reserved.