Ratusan hektar kawasan hutan lindung di perbukitan sekitar Danau Toba, Samosir, terbakar. Diduga berawal dari aktivitas pembukaan lahan.
Samosir, walhisumut.or.id – Kebakaran kawasan hutan lindung di perbukitan sekitar Danau Toba kembali terjadi. Kali ini, kebakaran awalnya terjadi di area perbukitan di Desa Turpuk Limbung, Kecamatan Harian, Kabupaten Samosir, dan meluas setelahnya. Sudah ratusan hektar areal hutan yang terbakar sejak Minggu, 14 Juli 2024.
Kepala Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan Sumatera Utara, Yuliani Siregar, melansir sumutpos, mengatakan jika luasan lahan terbakar per Rabu 17 Juli 2024 sudah mencapai 300 hektar.
Yuliani menduga jika kejadian tersebut bermula dipicu oleh aktivitas pembukaan lahan oleh orang yang tak bertanggung jawab. “(Untuk) ladang berpindah. Dua hari ini cuaca panas… Api (kini) sudah relatif kecil, namun petugas sudah meminimalisir untuk mencegah adanya api baru,” ungkap Yuliani.
Sementara itu, kebakaran yang cepat meluas dikarenakan sulitnya akses pemadaman. Kapolres Samosir, AKBP Yogie Hardiman, mengatakan jika medan perbukitan yang terjal menyulitkan petugas pemadam untuk menjinakkan kobaran api.
“Personel Polres Samosir, Polsek Harian, Koramil, BPBD dan Manggala Agni standby di lokasi untuk mencegah api menyebar ke permukiman warga dan melakukan pemadaman api pada lokasi yang dapat dijangkau,” ujar Yogie, melansir CNN.
Dia menyebutkan kedua lokasi kebakaran merupakan daerah perbukitan terjal tanpa akses jalan yang dapat dilalui kendaraan pemadam kebakaran. Lokasi kebakaran ditumbuhi semak belukar yang kering, ditambah dengan cuaca angin kencang, menyebabkan api cepat menyebar hingga ke perbukitan Desa Boho Kecamatan Sianjur Mula-Mula, serta perbukitan Siaraubung, Desa Turpuk Limbong, Kecamatan Harian.
Dugaan Aktivitas Buka Lahan
Kebakaran yang terjadi di area hutan lindung sekitar Danau Toba bukan yang pertama kali terjadi. Pemerhati Lingkungan Hidup Danau Toba, Wilmar Simandjorang, mengatakan dalam kompas.id, jika kebakaran hutan di kawasan Danau Toba selalu berulang setiap tahun saat musim kemarau. Karhutla tahun ini lebih luas dibanding pada tahun lalu. Area yang terbakar sebagian besar adalah lahan kritis di perbukitan yang sudah mengering, khususnya di Kecamatan Harian dan Sianjur Mula-Mula.
Wilmar menyebutkan, kawasan yang terbakar adalah padang ilalang di kawasan hutan yang berbatasan langsung dengan ladang masyarakat. ”Masih banyak masyarakat yang membuka lahan dengan cara membakar. Mereka lebih dulu menyemprotkan racun rumput, setelah rumput kering lalu dibakar,” kata Wilmar.
Keterbatasan alat pemadaman dan personel, serta upaya mitigasi yang minim dilakukan oleh pihak terkait menjadi kendala tahunan pemadaman api di kawasan Danau Toba.
Sebagai sebuah kawasan strategis nasional dan destinasi pariwisata superprioritas, Geopark Kaldera Toba juga tergabung dalam anggota UNESCO Global Geopark (UGGp). Dengan status tersebut sudah semestinya pemerintah melakukan upaya mitigasi yang maksimal. Wilmar mengatakan, seharusnya pemerintah dapat menyiapkan helikopter pemadam saat musim kemarau melanda di Danau Toba.
Mengingat status Geopark Danau Toba yang menjadi destinasi wisata prioritas menjadikan pembangunan masif dilakukan di kawasan wisata Danau Toba. Hal ini juga memicu kebakaran hutan lindung sebab aktivitas buka lahan dengan cara membakar dinilai lebih efisien.