
Banjir bandang dan tanah longsor menerjang Sumatera Utara, Sumatera Barat, hingga Aceh pada penghujung 2025. Saat sebagian penyintas masih berupaya pulih, Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi) Sumatera Utara menyoroti besarnya aliran pembiayaan kepada korporasi yang disebut memiliki risiko terhadap lingkungan. Mengutip data Forests & Finance, Walhi Sumut menyebut pembiayaan yang terdeteksi mengalir kepada sejumlah perusahaan sektor berisiko di Sumatera mencapai US$42,9 miliar atau sekitar Rp660 triliun sepanjang 2014–2025.
Angka tersebut terdiri atas pinjaman sebesar US$16,9 miliar dan pembiayaan penjaminan (underwriting) sebesar US$26,1 miliar. Jumlah ini terdiri dari pinjaman sebesar US$16,9 miliar dan pembiayaan penjaminan (underwriting) sebesar US$26,1 miliar. “Mirisnya, aliran dana tetap terjadi di tengah meningkatnya risiko ekologis dan konflik sosial,” tulis Walhi Sumut melalui akun Instagram @walhisumut pada Selasa (25/8/2026).
Walhi Sumut menilai persoalan pembiayaan tidak bisa dilepaskan dari kondisi lingkungan di Sumatera. Mereka menyinggung bencana berupa longsor dan banjir bandang yang melanda Sumatera Utara, Sumatera Barat, hingga Aceh pada akhir 2025. “Longsoran tanah dan banjir bandang menghantam Sumatra Utara, Sumatra Barat, sampai Aceh. Hingga saat ini, sebagian besar penyintas belum sepenuhnya pulih,” tulis Walhi Sumut.
Di sisi lain, organisasi tersebut menyoroti besarnya dana yang mengalir kepada perusahaan yang mereka kategorikan memiliki risiko terhadap lingkungan. Menurut Walhi Sumut, data tersebut menunjukkan adanya peran penting lembaga keuangan dalam menopang aktivitas perusahaan melalui pembiayaan.
Batang Toru Kehilangan 10.795 Hektare Tutupan Hutan
Sorotan juga diarahkan pada lanskap Batang Toru. Walhi Sumut mencatat perubahan tutupan hutan mencapai 10.795,31 hektare. Perubahan tersebut diduga berkaitan dengan aktivitas tujuh perusahaan besar di kawasan tersebut. Walhi Sumut memperkirakan kerusakan itu menyebabkan hilangnya lebih dari 5,4 juta pohon.
Area yang terdampak disebut termasuk kawasan yang berfungsi sebagai penyangga hidrologis dan koridor satwa. Kerusakan tersebut diperkirakan telah menghilangkan lebih dari 5,4 juta pohon, termasuk di kawasan yang berfungsi sebagai penyangga hidrologis dan koridor satwa.”Pembukaan lahan dalam skala besar ini dinilai melemahkan fungsi alamiah kawasan hulu dan memperbesar risiko banjir bandang serta longsor di wilayah hilir,” paparnya.
NSHE Terima Pembiayaan Terbesar
Dari perusahaan yang dapat ditelusuri, PT North Sumatera Hydro Energy (NSHE), pengelola PLTA Batang Toru, tercatat sebagai penerima pembiayaan terbesar. Nilainya mencapai US$23 miliar, dengan mayoritas pembiayaan disebut menggunakan skema penjaminan. Berikutnya terdapat PT Agincourt Resources, pengelola tambang emas Martabe, dengan pembiayaan sebesar US$9,87 miliar.
Sementara itu, PTPN III tercatat menerima pembiayaan sebesar US$7,54 miliar. Walhi Sumut mengutip Koalisi Responsibank yang menegaskan bahwa data tersebut belum menggambarkan keseluruhan pembiayaan perusahaan di Indonesia. “Data ini baru mencerminkan sebagian kecil perusahaan yang dapat ditelusuri, mengingat masih terbatasnya keterbukaan data pembiayaan dan struktur korporasi di Indonesia,” jelas Walhi Sumut.
Bank Asing Mendominasi
Data yang dipaparkan Walhi Sumut menunjukkan sejumlah lembaga keuangan asal China dan Jepang berada dalam daftar pemberi pembiayaan terbesar. SDIC Finance dari China menempati posisi pertama dengan nilai US$5,338 miliar. Sementara itu, Bank Mandiri menjadi lembaga keuangan asal Indonesia dengan nilai pembiayaan terbesar, yakni US$3,752 miliar.
20 Pemberi Pinjaman Terbesar di Sumatera SDIC Finance (China) – US$5,338 miliar Bank Mandiri (Indonesia) – US$3,752 miliar CSC Financial (China) – US$2,417 miliar CITIC (China) – US$1,756 miliar Industrial and Commercial Bank of China (China) – US$1,725 miliar SMBC Group (Jepang) – US$1,653 miliar Bank Rakyat Indonesia (Indonesia) – US$1,649 miliar Bank of China (China) – US$1,419 miliar HSBC (Inggris) – US$1,236 miliar China Development Bank (China) – US$1,215 miliar Bank Negara Indonesia (Indonesia) – US$1,144 miliar China Construction Bank (China) – US$1,085 miliar Guotai Junan/Guotai Haitong Securities (China) – US$1,045 miliar GF Securities (China) – US$967 juta DBS (Singapura) – US$932 juta Agricultural Bank of China (China) – US$885 juta China International Capital Corporation (China) – US$782 juta Mizuho Financial (Jepang) – US$765 juta China Merchants Bank (China) – US$754 juta Mitsubishi UFJ Financial (Jepang) – US$747 juta.
***
Artikel ini merupakan republikasi dari sawitku.id. Klik di sini untuk membaca dari sumber awal.